13 Juli 2011

Pengusaha Sukses dari Menu Spesial Sambal


Kebiasaan masyarakat Indonesia yang tidak pernah lepas dari berbagai macam menu makanan pedas, ternyata menjadi ladang bisnis yang sangat empuk bagi Yoyok Heri Wahyono. Lelaki yang tahun ini genap berusia 38 tahun tersebut mencoba menjalankan bisnis makanan dengan menu spesial sambal, sesuai dengan kegemarannya yang tidak bisa lepas dari makanan pedas berbahan baku cabe ini. 

Perjalanan bisnis

Mengawali kesuksesan bisnisnya pada pertengahan tahun 2002 tepatnya di bulan Agustus, Yoyok yang saat itu sengaja melepaskan jabatannya sebagai manajer di salah satu perusahaan ternama di kota Yogyakarta memutuskan untuk membuka warung tenda dengan menu andalan spesial sambal bersama teman-temannya. Ide ini didapatkannya bersama teman-temannya yang tergabung dalam InSEd production, event organizer (EO) yang saat itu didirikan Yoyok. Sadar bahwa omset dari event organizer tidak bisa diharapkan secara rutin, Yoyok bersama lima orang rekannya yang tergabung dalam InSed production mulai putar arah dan terjun di bisnis kuliner yang menjanjikan pendapatan rutin lebih besar.

10 Juli 2011

Pengusaha yang Sukses Berbisnis Laundry


Gaya hidup masyarakat perkotaan yang memiliki rutinitas harian cukup tinggi membuat kebutuhan akan jasa laundry semakin hari kian diminati. Budaya inilah yang telah dilihat Fen Saparati sejak tahun 1996. Ketika pelaku bisnis lainnya belum melirik jasa laundry sebagai ladang bisnis yang cukup menguntungkan, lelaki asli Yogyakarta ini memutuskan untuk keluar dari zona aman dengan mundur dari pekerjaannya saat itu (staff keuangan di pabrik Semen Gresik) beralih menjadi seorang pengusaha bisnis laundry. Meskipun keputusannya mundur dari pekerjaan tersebut tidak disetujui oleh keluarganya, namun tidak mengurungkan niat Fen untuk terjun di dunia usaha.

Dengan bermodalkan uang hasil penjualan rumahnya yang ada di Jakarta, Fen memulai suksesnya dengan mendirikan Melia Laundry & Dry Cleaning pada tanggal 9 Maret 1996 di kota Yogyakarta. Menempati lokasi usaha yang saat itu sangat sederhana, Fen sengaja memilih “Melia” sebagai brand bisnisnya karena kata tersebut memiliki arti mengalir. Harapan Fen kelak bisnisnya dapat mengalir tanpa hambatan apapun seperti halnya arti dari kata Melia yang dipilihnya.

Perjalanan Bisnis Melia Laundry & Dry Cleaning

Awalnya Fen cukup kesulitan dalam mengembangkan bisnisnya, mengingat pada waktu itu (tahun 1996) jasa laundry masih belum dikenal masyarakat Jogja. Bahkan setelah tiga bulan membuka usaha laundry, Fen belum juga mendapatkan konsumen. Sehingga Fen harus berusaha keras mengenalkan “apa itu jasa laundry” kepada para calon konsumennya. Kondisi ini ternyata tidak membuat Fen Saparati menyerah dalam mewujudkan mimpinya.

03 Juli 2011

Berkah salon muslimah kian merekah


Kian banyak perempuan yang menuntut privasi tinggi untuk masuk ke salon, sehingga mendatangkan berkah bagi salon muslimah. Bisnis salon muslimah juga makin ramai karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim.

Maklum, salah satu keunggulan salon ini adalah hanya menerima pelanggan dari kaum hawa, terutama wanita yang memakai kerudung. Para perempuan pun bisa leluasa merawat rambut dan bagian tubuh lainnya.

Dalam tulisan ini, KONTAN mencoba mengulas tiga salon muslimah yang dulu pernah ditulis KONTAN. Mereka adalah Zaza Salon, Mutia Spa dan Salon Muslimah, serta Moz5 Salon Muslimah.

Yang menarik, dua salon di antaranya menambah layanan spa, disamping jasa salon. Kedua salon itu yakni Zaza Salon dan Mutia Spa dan Salon Muslimah. Para pemilik kedua salon menambahkan layanan baru ini karena banyak permintaan dari mitra.

30 Juni 2011

Kisah Sukses Pengusaha Es Teler 77


Siapa yang tak kenal dengan produk es teller 77, ratusan gerainya sudah tersebar di seluruh nusantara. Tidak puas dengan mempertahankan pasar dalam  negeri, kini produk es teller 77 merupakan salah satu bisnis franchise makanan yang berhasil merambah pasar internasional. Produknya sudah menjangkau pasar luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, serta masih akan terus dikembangkan untuk membuka gerai berikutnya di India, Jeddah dan Arab Saudi.

Terinspirasi dari sang mertua (Ibu Murniati Widjaja) yang menang lomba membuat es teler, Sukyatno yang dulunya bernama Hoo Tjioe Kiat mencoba menjual es teler di emperan toko dengan menggunakan tenda – tenda. Usaha yang dimulainya pada tanggal 7 Juli 1982 ini, ternyata bukan peluang bisnis yang pertama kali Ia coba. Berbagai peluang bisnis seperti menjadi salesman, tengkulak jual beli tanah, makelar pengurusan SIM, menjadi pemborong bangunan, sampai mencoba bisnis salon pernah Ia geluti dan semuanya gagal ditengah jalan.

Tak ingin mengulangi kegagalan bisnis seperti sebelumnya, Sukyatno mulai menekuni bisnis es telernya yang diberi nama es teler 77. Angka 77 digunakan sebagai merek es telernya, karena angka tersebut mudah diingat dan diharapkan menjadi angka hoki bagi pemilik bisnis ini. Keyakinan Sukyatno pun tepat, merek es teler 77 mulai dikenal masyarakat dan menjadi salah satu produk unggulan dari dulu sampai sekarang.

28 Juni 2011

Mendobrak Diri Sendiri


Batasan, kadang hanya kita sendiri yang menciptakan. Karena itu, butuh keberanian, tekad, dan kematangan diri untuk mendobrak dan menciptakan kesuksesan demi kesuksesan sejati!

Setiap kali menghadapi tantangan dan cobaan, sebenarnya kita sedang dipersiapkan untuk menjadi insan luar biasa yang mampu menjadi pemenang-pemenang sejati kehidupan.

Pepatah Tiongkok kuno mengatakan: zi wo tu po (mendobrak diri sendiri)! Maka sebenarnya setiap insan tercipta dengan segala macam potensi untuk mengatasi berbagai halangan & rintangan. Hanya saja, adalah pilihan bagi kita, untuk mau selalu "mendobrak", atau sekadar menerima kondisi kenyamanan yang telah diterima.